RHEUMATOID ARTHRITIS
RHEUMATOID ARTHRITIS
Rheumatoid Arthritis adalah penyakit autoimun yang memerlukan pengobatan dan kontrol jangka panjang. Penyakit ini ditandai dengan keterlibatan sendi yang simetris. Penyakit ini merupakan kelainan auto imun yang menyebabkan inflamasi sendi yang berlangsung kronik . Etiologi penyakit ini belum sepenuhnya diketahui. Dimana nyeri sendi pada RA secara bermakna dapat menurunkan kualitas hidup, serta dapat mengganggu aktivitas perkerjaan dan sosial.
Tanda dan Gejala
Nyeri persendian, bengkak, kaku sendi
terutama setelah bangun tidur , sendi-sendi terasa panas demam, anemia, kekuatan
berkurang, warna kemerahan disekitar sendi, perubahan ukuran pada sendi dari
ukuran normal
Patofisiologi
Patogenesis
RA belum sepenuhnya dipahami. Rangsangan eksternal (misalnya merokok, infeksi,
atau trauma) dapat memicu reaksi autoimun, yang mengarah ke hipertrofi sinovial
dan peradangan sendi kronik (intraartikular). Selain itu, rangsangan ini juga
berpotensi untuk bermanifestasi ekstraartikular, diduga terutama pada
individu. yang memiliki faktor genetik. Faktor genetik dan kelainan sistem
kekebalan berkontribusi terhadap penyebaran penyakit.
Rheumatoid
arthritis akibat reaksi autoimun dalam jaringan sinovial
yang melibatkan proses fagositosis. Dalam prosesnya, dihasilkan
enzim-enzim dalam sendi. Enzim-enzim tersebut selanjutnya akan
memecah kolagen sehingga terjadi edema, proliferasi membran sinovial
dan akhirnya terjadi pembentukan pannus. Pannus akan menghancurkan
tulang rawan dan menimbulkan erosi tulang. Akibatnya adalah
menghilangnya permukaan sendi yang akan mengganggu gerak sendi.
Manifestasi Klinis
Rheumatoid arthritis pada
umumnya sering di tangan, sendi siku, kaki, pergelangan kaki
dan lutut. Nyeri dan bengkak pada sendi dapat berlangsung dalam
waktu terus-menerus dan semakin lama gejala keluhannya akan semakin
berat. Keadaan tertentu, gejala hanya berlangsung selama beberapa
hari dan kemudian sembuh dengan melakukan pengobatan. Rasa nyeri pada
persendian
berupa pembengkakan, panas, eritema dan gangguan
fungsi merupakan gambaran klinis yang klasik untuk rheumatoid arthritis.
Jenis-jenis Obat
Rheumatoid Arthritis
1. DMARD
(Disease-Modifying Anti-Rheumatic Drugs)
adalah
kelompok obat yang memiliki potensi mengurangi kerusakan sendi, mempertahankan
integritas dan fungsi sendi. Yang termasuk dalam obat-obat DMARD adalah
methotrexate, leflunomide, sulfasalazine, hydroxychloroquine, cyclosporine,
azathioprine.
Sulfasalazine
Farmakodinamik :
Sulfasalazine
memiliki komponen aktif yang terdiri dari sulfapiridin dan 5-aminosalisilat
yang diikat oleh ikatan-azo yang dipecah oleh bakteri di kolon. Efek utama
sebagai antinflamasi dari 5-ASA yang menghambat sintesis leukotriene dan
lipoxygenase. Selain itu, komponen sulfapiridin memberikan efek antibakteri
dengan menghambat p-aminobenzoic acid yang dibutuhkan kuman untuk membentuk
asam folat dalam sintesis DNA.
Farmakokinetik :
Absorbsi
Bioavaibilitas
<15% dari bentuk parent drug; 60% sulfapiridin ; 10-30% 5-ASA
Distribusi
99%
terikat albumin
Metabolisme
Sulfasazin
diubah oleh bakteri kolon menjadi bentuk aktif komponen sulfapiridin dan
mesalamin
Ekskresi
Urin dan
feses
Efek samping
Reaksi
toksik yang terjadi antara lain Heinz-body anemia, hemolysis akut pada
penderita defisiensi G6PD dan agranulotosis. Mual, demam, altragia serta ruam
kulit dapat terjadi pada 20% penderita dan desensitisasi dapat mengurangi angka
kejadian
Methotrexate
Farmakologi
merupakan
obat penghambat enzim dihidrofolat reductase, yang berfungsi mengubah asam
dihidrofolat menjadi tetrahidrofolat. Pada akhirnya obat ini dapat mengganggu
pertumbuhan sel ganas tanpa menyebabkan kerusakan permanen pada jaringan
normal.
Farmakodinamik
Farmakodinamik
methotrexate adalah menghambat enzim dihidrofolat reductase, dimana enzim ini
berfungsi untuk merubah asam dihidrofolat menjadi tetrahidrofolat yang
digunakan sebagai pembawa gugus satu karbon sintesis nukleotida purin dan
timidilat pada proses sintesis, perbaikan, dan replikasi sel DNA. Oleh karena
itu, methotrexate memiliki efek antimetabolit yang sensitif pada sel-sel yang
aktif berproliferasi, misalnya pada sel keganasan, sel sumsum tulang, sel
janin, sel mukosa bukal dan usus, serta sel kandung kemih.
Methotrexate
juga memiliki aktivitas imunosupresan yang kuat meskipun mekanisme kerjanya
tidak jelas. Diduga obat ini dapat mempengaruhi fungsi kekebalan tubuh.
Berdasarkan hasil penelitian, reaksi invitro methotrexate menyebabkan
pengambilan prekursor DNA terhambat karena distimulasi oleh sel mononuklear.
Selain itu ditemukan pula gambaran sel yang mengalami koreksi parsial
poliartritis dari hiporesponsivitas sel limpa dan penekanan produksi interleukin
II. Karena efek imunosupresan ini, methotrexate dapat digunakan untuk mengobati
gejala berat rheumatoid arthritis.
Farmakokinetik
Methotrexate
diabsorpsi tergantung pada dosis yang diberikan, secara umum diserap baik di
saluran pencernaan dengan bioavailabilitas rata-rata sekitar 60%. Methotrexate
dimetabolisme sebagian besar di hepar dan intraseluler, dan diekskresikan
melalui ginjal.
Absorpsi
Pada orang
dewasa, penyerapan methotrexate secara oral tergantung pada dosis. Level serum
puncak dicapai dalam waktu 1-2 jam. Pemberian dosis 30 mg/m2 atau kurang,
metotreksat secara umum diserap baik dengan bioavailabilitas rata-rata sekitar
60%. Penyerapan lebih sedikit secara signifikan pada pemberian dosis >80
mg/m2, hal ini mungkin karena efek saturasi.
Distribusi
Methotrexate
setelah pemberian intravena, volume awal yang didistribusikan sekitar 0,18 L/kg
(18% dari berat badan) dan volume tetap distribusi methotrexate adalah sekitar
0,4 hingga 0,8 L/kg. Methotrexate dalam serum terikat pada protein sekitar 50%,
dan dapat digeser oleh berbagai senyawa lain termasuk sulfonamida,.
Metotreksat tidak menembus sawar darah serebrospinal dalam jumlah terapeutik
ketika diberikan secara oral atau parenteral. Konsentrasi obat CSF yang tinggi
dapat dicapai oleh pemberian secara intratekal.
Metabolisme
Metabolisme
methotrexate terjadi di hepar dan intraseluler, diubah menjadi bentuk
poliglutamat yang dapat dikonversi kembali menjadi metotreksat oleh enzim
hidrolase.
Waktu Paruh
Waktu
paruh methotrexate adalah 3-10 jam pada pengobatan psoriasis, rheumatoid
arthritis, atau antineoplastik dosis rendah <30 mg/m2. Sedangkan pada
pemberian metotreksat dosis tinggi, waktu paruh dapat mencapai 8-15 jam.
Ekskresi
Ekskresi
methotrexate terutama melalui ginjal. Pada pemberian intravena, 80-90% dari
dosis obat tanpa metabolisme akan diekskresikan dalam waktu 24 jam. Sedangkan
ekskresi melalui empedu hanya <10% dari dosis.
2. ntiinflamasi nonsteroid (NSAID)
Obat NSAID
berfungsi untuk mengurangi peradangan dan meredakan nyeri pada persendian
akibat rheumatoid arthritis. Obat NSAID terutama bekerja dengan menghambat
enzim siklooxygenase sehingga menekan sintesis prostaglandin. Contoh
obat NSAID rematik generik yaitu ibuprofen , prednison dan naproxen.
Farmakodinamik
Prednisone mengurangi inflamasi
dengan cara menginhibisi migrasi sel polimorfonuklear (PMN) dan mengurangi
peningkatan permeabilitas kapiler. Prednisone mensupresi sistem imun dengan
cara mengurangi aktifitas dan volume sistem limfe.
Prednisone di dalam darah akan
berubah menjadi bentuk aktif, dan di dalam inti sel akan mengikatkan diri dan
mengaktivasi reseptor-reseptor sitoplasmik nuklear spesifik dengan afinitas
yang tinggi, sehingga mengakibatkan ekspresi genetik yang berubah dan
menginhibisi produksi sitokin pro-inflamatori. Bentuk aktif tersebut
menghasilkan inhibisi infiltrasi leukosit, mengintervensi fungsi
mediator-mediator terhadap respon inflamatori, mensupresi respon imun humoral,
serta mengurangi edema dan jaringan parut
Farmakokinetik
Farmakokinetik prednison mayoritas
didistribusikan berikatan dengan protein.
Absorpsi
Absorpsi prednison sangat baik
setelah konsumsi per oral. Konsentrasi puncak dalam plasma darah tercapai
sekitar 1─3 jam pada sediaan immediate release, dan sekitar 6 jam
pada sediaan delayed release. Bioavailabilitas obat per oral adalah
92%.
Distribusi
Distribusi prednison dalam ikatan
dengan protein sebesar 65%─91%.
Metabolisme
Metabolisme terjadi di hati dengan
cara hidroksilasi menjadi metabolit aktif, prednisolon.
Eliminasi
Prednison diekskresikan ke dalam
urin. Waktu paruh biologis setelah konsumsi per oral adalah sekitar 3-4 jam.
Pada anak-anak waktu tersebut lebih pendek, yaitu sekitar 1-2 jam.
Permasalahan :
1. Jika pada struktur sulfasalazine ditambahkan gugus metil CH3, apakah akan meningkatkan bioavailaibilitas dari sulfasalazine ? dan apakah hal ini dapat memudahkan sulfasalazine untuk berikatan dengan reseptor ? Jelaskan !
2. Dalam distribusinya prednison berikatan dengan protein dalam jumlah cukup besar sehingga membentuk kompleks protein-obat. Sebagaimana diketahui bahwa ikatan protein dapat mempengaruhi waktu paruh obat . Lalu bagaimana pengaruh ikatan ini terhadap waktu paruh prednison ? apkah dapat memberikan indeks teurapetik yang lebih tinggi ?
DAFTAR PUSTAKA
Arini,L
dan T.Eltrikanawati. 2020. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan
Rheumathoid Arthritis. Pustaka Galeri Mandiri, Padang.
Nitiyoso,
N. 2020. Pilihan Pengobatan Artritis Rematoid. Continung Professional
Development.
47(4)
Di
Poli Penyakit Dalam Dan Poli Bedah Tulang RSUD Abdul Moeloek Provinsi Lampung.
Jurnal Ilmu Kedokteran Dan Kesehatan. Vol 5(2)






Makasih ... Artikel nya bermanfaat sekali
BalasHapusTerimakasih Ya
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusTerimakasih atas artikelnya. Sangat membantu :)
BalasHapusSama sama Caca
HapusArtikelnya sangat bermanfaat
BalasHapusTerimakasih artikelnya sangat bagus
BalasHapusGood...helpful bangett
BalasHapusTerimakasih kunjungannya
Hapuswahh lengkap banget penjelasannya, makasii kak
BalasHapusterima kasih, artikelnya sangat bermanfaat:)
BalasHapusTerimakasih atas materinya kak sangat membantu bagi mahasiswa
BalasHapusyang baru belajar
Iya sama sama ..ditunggu update an berikutnya ^^
HapusTerimakasih kakak telah berbagi ilmunya ^-^
BalasHapusDitunggu update berikutnya ^^
HapusTerimakasih banyak atas ilmunya, artikelnya sangat bermanfaat 🙏🏻
BalasHapusThankyou
Hapusterimakasih banyak informasinya kaka, sangat bermanfaat sekali, menambah ilmu kepada kita orang awam mengenai permasalahan yang sering kita semua hadapi, informasi yang disampaikan sangat jelas, serta mudah dipahami, terimakasih kaka, teruslah berkarya
BalasHapusTerimakasih ya sudah berkunjung 🙏
HapusTerima kasih artikelnya
BalasHapusMakasih banyak atas ilmunya, blognya jg sangat baguss
BalasHapusTerimakasih untuk ilmunya semoga bermanfaat untuk sari
BalasHapus